September 13, 2008

Pada mulanya, tidak ada rules dalam hidup manusia. Maksud saya aturan atau ukuran yang diciptakan manusia, untuk menilai sesamanya. Hanya ukuran hubungan manusia dengan Penciptanya lah, yang dapat dijadikan ukuran. Hingga jaman memasuki jaman bangsa-bangsa, dimana tiap-tiap bangsa memiliki budaya dan aturan sendiri mengenai tata cara hidup. Bangsa yang dimaksud bermula dari satu keluarga, yang bertambah banyak sehingga menjadi sekumpulan besar orang dalam suatu daerah yang luas.

Berkembangnya suatu bangsa, maka dirasa keberadaan orang-orang yang dianggap dekat dengan Pencipta kurang bisa mengatasi begitu banyak warga yang ada dalam suatu bangsa. Karena itu mulai lah diangkat seorang pemimpin, yang bernama raja, yang dihormati dan ditakuti oleh bangsanya, memiliki ‘pemimpin kecil’ sebagai menterinya, juga panglima perang untuk maju di garis depan saat bangsa perlu ekspansi dan atau bertahan dari serangan musuh. Jaman pun berkembang ke jaman kerajaan.

Namun manusia, tetap lah manusia. Manusia memiliki hak bebas untuk memahami sesuatu, manusia pun bebas untuk menentukan langkahnya sejak awal dan tidak lupa manusia pun memiliki sesuatu yang berharga, yang diberikan oleh Penciptanya, mirip dengan yang dimiliki oleh Sang Pencipta, yaitu akal. Dengan akal yang dimilikinya, jaman dan kebudayaan manusia berkembang. Kenapa mirip dengan Sang Pencipta? Tidak lain karena Sang Pencipta, memberikan kemampuan dasar dalam akal manusia yang diciptakannya untuk mencipta, selain untuk memahami banyak hal.

Karena itu mulai lah manusia berfikir untuk mengatur hidupnya, aturan-aturan awal yang diberikan oleh Sang Pencipta dijadikan suatu dasar, yang akhirnya dikembangkan dalam butir-butir oleh manusia menjadi aturan-aturan, tentu saja manusia ini harus yang berkuasa atau dihormati, di jaman itu raja-raja dan para pemuka agama. Pada masa awal jaman kerajaan, para pemuka agama sangat dihormati dan memiliki pengaruh lebih dari pada raja. Raja dianggap sebagai perwakilan dari Sang Pencipta dan para pemuka agama sebagai orang yang dianggap lebih dekat dengan Sang Pencipta, menjadi orang-orang yang menetapkan siapakah orang yang berhak menjadi pemimpin, dan menjadi penasihat sekaligus pengawas atas aturan-aturan yang dibuat oleh si raja kelak, pada saat ia memimpin bangsa.

Raja adalah manusia, pemimpin agama pun demikian, kaum intelektual dan warga lainnya adalah manusia. Manusia sama-sama memiliki kehendak bebas, memiliki nilai yang sama di hadapan Sang Pencipta, memiliki modal yang sama-sama diberikan oleh Sang Pencipta, yaitu akal. Akal untuk mencipta dan memahami banyak hal. Namun karena manusia memiliki kehendak bebas, manusia menjadi sanggup dan bias menciptakan sesuatu yang mendukung dan untuk mengaggungkan Sang Pencipta atau menciptakan sesuatu yang memungkiri keberadaan Sang Pencipta dan melawannya.

Manusia akhirnya memahami, menjadi pemimpin adalah penting, sama pentingnya dengan memiliki massa, juga penting untuk memiliki pengertian akan banyak hal. Hingga munculah pengelompokan, yang mana kelompok bangsawan, yang mana kelompok intelektual, yang mana rakyat kaya, yang mana rakyat miskin dan jelata. Sang Pencipta tidak ingin adanya pengelompokan tersebut, namun sekali lagi ini adalah hak dari manusia untuk berkehendak bebas dalam menentukan kehidupannya. Pengelompokan ini tidak ada lain karena manusia ingin berkuasa atas manusia lainnya, berbeda dengan memimpin. Apa bedanya, dalam rasa ingin berkuasa terdapat unsur penindasan dan perbedaan hak, namun dalam memimpin ada unsur pengayoman, perlindungan dan kesejahteraan.

Banyak manusia yang semakin maju dalam berfikirnya, hingga mulai berfikir tentang banyak hal, mulai membuat banyak aturan. Aturan memang baik, namun ketika sudah bertentangan dengan prinsip Sang Pencipta, menjadi mengerikan tampaknya. Bahkan manusia mulai berfikir, bahwa Sang Pencipta itu tidak ada. Manusia dibedakan dengan derajat yang ‘manusia intelek’ menyebutnya kesempurnaan, para filsuf menyatakan ketidaksetujuannya kepada pemerintah dan memiliki penilaian sendiri atas kehidupan, juga tidak jarang mereka mengajak manusia untuk lebih mempercayai dirinya sendiri ketimbang Sang Pencipta.

Bukan hanya bangsa, namun juga intelektual, bukan hanya warna kulit, namun juga tinggi badan, bukan hanya bentuk wajah, namun juga berat badan, atau hal hal lain yang dijadikan ukuran oleh manusia, dijadikan rules, aturan, atau ukuran yang dianggap benar, untuk mengukur siapa manusia berdasarkan, dari keluarga mana mereka berasal, dari suku mana, dari bangsa mana, tinggi atau pendek, kurus kah, langsing kah atau gemuk, hitam kah warna kulitnya, atau kuning, atau putih, bagaimana dengan rambutnya, bagaimana dengan kukunya, sekolah apa dia, prestasi apa yang dia pernah raih, berapa kendaraan yang dimilikinya, berapa banyak uang yang dia punya… (kalian bisa tambahkan pertanyaan ini…)

Sehingga tidak sadar, manusia berlomba untuk mencapainya hanya untuk memenuhi kehausan dari kebutuhan dasarnya untuk dihargai, dihormati dan dicintai. Itu bukan berarti menjaga kesehatan dengan apa yang kita makan dan olah raga itu tidak baik, atau bekerja keras itu tidak baik, juga bukan berarti mengenyam pendidikan itu tidak baik, juga dengan hal lainnya yang bermanfaat. Namun, alasan ingin mencapainya untuk mendapatkan rasa hormat, serta berharga dan juga mengukur orang menggunakan nilai-nilai atau aturan terebut sangat tidak baik. Banyak orang mencoba mempengaruhi manusia dengan nilai-nilai ini, ukuran-ukuran ini, karena itulah yang membuat ‘dagangan’ mereka laku.. orang kulit putih, mereka pergi ke daerah pantai atau tropis, mereka ingin punya warna kulit seperti orang tropis.. agak gelap, sedangkan orang dari belahan tropis, ingin menjadi putih.. dan banyak lagi contoh-contoh lain, kenyataan yang ada disekitar kita karena blinded by rules atau dibutakan oleh ukuran-ukuran yang tidak esensi dan buatan manusia. Atau kita memberikan gelas crystal untuk orang-orang yang pakai mercy ke rumah kita, dan gelas plastic untuk orang-orang yang naik mobil umum ke rumah kita.

Lainnya lagi, seorang ibu atau bapa yang kebakaran jenggot ketika melihat prestasi akademik anaknya buruk, padahal anak itu anak yang gemar menolong temannya disekolah, jago melukis dan main music (ada sembilan kecerdasan manusia, bukan hanya akademik), IQ dianggap penting. Mungkin orang tua perlu tahu, kalau Thomas Alfa Edison seorang yang memiliki IQ rendah namun menciptakan sesuatu. Atau keluarga Hoyt yang mampu menjadikan anaknya berhasil, padahal dunia menolaknya, juga dokternya waktu kecil, atau bahkan kita jika ada di dekat mereka. Waktu kita memiliki pemahaman yang benar, bagaimana Sang Pencipta menciptakan kita, dan bagaimana Sang Pencipta memandang kita sebagai ciptaannya. Lalu kita berusaha untuk memandang orang lain sama seperti Sang Pencipta memandang mereka. Tidak ada lagi sakit hati, tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi produk pemutih, tidak ada lagi orang yang tidak menerima dirinya sendiri, tidak ada lagi orang yang membunuh demi uang, tidak ada lagi orang yang bunuh diri karena raport sekolahnya jelek, tidak ada lagi penghinaan atau tertawaan ketika seseorang tidak bisa mengerjakan sesuatu, namun menolong mereka untuk mengerjakaanya, toleransi terhadap perbedaan, toleransi terhadap kesalahan (toleransi bukan kompromi), dan kesejahteraan itu akan semakin dirasakan, karena dengan sendirinya lingkungan, environment atau atmosphere kita hidup sudah berubah.

Saat kita memiliki pandangan yang benar dan sama dengan Sang Pencipta, terhadap sesame kita.. tentu saja si screwtape tidak senang dan ingin kita balik ke rules mereka, bukan Sang Pencipta. -bydemul

August 11, 2008

Menariknya ada dua kata dalam bahasa Inggris, yang diartikan sebagai pemenang dalam bahasa Indonesia. Yang satu adalah winner1 dan yang satu lagi adalah victory2. Memang mirip sekali dan beda tipis penggunannya, kata winner1 lebih sering digunakan sebagai penyataan bahwa seseorang telah berhasil dengan daya upaya yang dia kerahkan atas sebuah pekerjaan, pertandingan atau juga untuk mengharapkan sesuatu. Contoh: Can I win her heart?

Sedangkan kata victory2, lebih sering digunakan untuk kemenangan yang diraih dengan penyerangan (force), atau dengan kata lainnya peperangan. Dalam bahasa Indonesia keduanya memiliki arti yang sama yaitu kemenangan.

Setiap kita, sadar atau pun tidak, sedari masih kecil sudah terjerumus kedalam peperangan, persaingan atau kompetisi. Bukan kita yang menginginkannya, namun system dalam dunia ini, membuat kita otomatis masuk kedalamnya (orang tua yang berperan dalam hal ini). Contoh, pada umumnya bayi berumur 7 bulan sudah belajar merangkak, lalu ada seorang bayi A yang belum bisa merangkak, padahal sudah lebih dari 7 bulan, satu lagi adalah bayi B yang dari 6 bulan sudah bisa merangkak. Lalu karena itu adalah perkumpulan ibu-ibu, apa yang dibincangkan atau komentar yang dilontarkan ibu-ibu biasanya, pada bayi A dan bayi B. “Oo.. kok lambat ya? Mungkin kurang… atau…” lainnya, “waahh, hebat sekali… aku mau punya anak kaya dia… bla..bla..bla..”

Tanpa disadari, berawal dari penolakan-penolakan ringan, kompetisi ringan, yang terus dipupuk hingga bayi tersebut menjadi besar (ga cuma itu, motivasi dari Ibu dan cinta dari keluarga juga berpengaruh loh…), itulah yang akan membentuk karakter atau sikap dari si anak (termasuk kita juga, hehe…)

Contoh lain lagi adalah, suatu kali Michael (3th) sedang bermain dengan sepupunya, John (2th). Mereka menginginkan mainan mobil yang sama, padahal hanya ada satu mobil mainan yang ada disitu, Michael menginginkannya, begitu juga John. John menariknya dari tangan Michael, dan Michael mencoba mempertahankannya (a little War here…), kita tahu kan seperti apa akhirnya… Lalu datanglah ibu dari Michael, menasehati anaknya, “Mike (nickname dari Michael).. kamu mau kan belajar berbagi, biar John main mobil-mobilan tersebut dan kamu main yang lain… Ok Mike? Atau kamu mau ikut mama ke kebun?”

Ibunya Michael menawarkan opsi kepada Mike, apakah opsi tersebut sebuah kekalahan?

Saya pernah mendengar pada kasus yang sama, seorang ibu menarik anaknya dan berbisik (agak keras sih), “kamu bodoh, udah mama bilang jangan dibawa keluar mainannya, udah kamu ambil.. dan mainnya di kamar saja.. sana

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya contoh-contoh ini dengan judul diatas “Menjadi Pemenang Vs. Menang Sendiri”. Hubungannya adalah, tanpa disadari sikap-sikap yang kita pelajari dan putuskan untuk kita ambil, dari hal-hal terkecil (skala masalahnya), dan sedari kita kecil (umur kita), itu mempengaruhi sikap kita dimasa sekarang.

Apakah kita seorang pemenang atau mau menang sendiri (kata lainnya, egois, selfish). Seorang pemenang, kadang harus undur disaat yang berbahaya, berani mengambil resiko, mengalah disaat harus mengalah, bekerja lebih keras atau bahkan harus terlihat ‘kalah’ (mengorbankan diri) untuk mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya, karena seorang pemenang tidak pernah berjuang sendiri, juga tidak pernah mencari kemenangan untuk kepuasan diri sendiri atau kelompoknya. Karena itu, seorang pemenang berjuang mati-matian atau bahkan rela mati asalkan dia mendapatkan kemenangan bagi banyak orang.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita seorang pemenang, waktu kita di antrian (kita akan lebih senang dapat urutan pertama atau paling sedikit antriannya), waktu kita di tempat kerja (kita lebih senang, kalau kita yang dipromosikan dari pada teman kita atau bahkan sahabat kita), di sekolah, di dalam keluarga, dan banyak lagi kondisi lainnya, yang membuat kita harus memilih untuk jadi Pemenang atau Menang Sendiri??