May 7, 2008

Sore tadi.. saya di pasar, sudah agak bosen nunggu hujan yang kelamaan.. jadi walau agak gerimis sedikit, mau tak mau.. jalan.. Tapi tetep ingat pesanan kakak saya, saya diminta telepon suaminya untuk beli pampers sepulang kerja nanti..

Karena handphone sudah habis masa aktifnya, maka saya ke wartel.. "permisi mbak.. mau telepon..", si mbak malah hapus air mata yang masih terus ngalir, sambil ngangguk sebagai responsenya.. Saya pikir-pikir, kenapa ni mbak ya.. (langsung analyze gitu.. di otak..):

Option:

  1. Dia habis diputusin pacarnya
  2. Atau dia baru ribut sama suaminya
  3. hmm.. emoticon atau mikirin kapan gw nikah..

Hahaha…. becanda, akhirnya selesai sudah waktu menelpon. Saya hampiri si mbak untuk bayar bill teleponnya. Pas g liat masih keluar air mata gitu..("Sedih banget sih ni orang", pikir saya). "Berapa mbak…?" saya tanya tagihannya.. "empat ratus mas.." katanya.. "HP saya hilang di atas meja mas, orangnya naik pagar dan ambil HP yang saya charge diatas meja.." dia hapus sulu air matanya, "saya udah teriak maling… tapi anak-anak di kontrakan sebelah rumah gak ada yang mau bantu.."

Well..  saat-saat ini kita lagi kembali ke era 70an, dimana semua serba sulit.. daya beli masyarakat di negara kita sedang berangsur turun untuk sebagian besar masyarakat. Akan terjadi kesenjangan yang sangat ekstrim, kaya jadi lebih kaya karena mereka smart, yang pas-pas-an juga banyak, dan yang miskin.. semakin sulit, karena terkotak dengan kemiskinannya. Namun sebenarnya, menurut saya itu tidak lebih parah dari pada kemiskinan hati disebagian kecil orang-orang yang ada saat ini. Yang berhenti bekerja dan berharap akan sebuah masa depan yang baik, mereka lebih memilih cara-cara yang keji atau tidak baik untuk mendapatkan uang.

Ada yang mencuri, ada yang nodong, ada yang curi tapi gak terang-terangan atau maling teriak maling di balik label ‘IV’, mungkin yang lain juga banyak.. cuma belum ketemu apesnya aja. Bagi sebagian orang mungkin kehilangan HP adalah kejadian yang biasa, bisa beli yang baru lagi.. iya gak?  Tapi sore ini saya melihat seseorang menangis karena HPnya hilang, dan jika ada orang menangis karena sesuatu yang hilang dari dirinya, itu berarti orang ’sesuatu’ tersebut berharga sekali untuknya..

Saya jadi belajar untuk mensyukuri apa yang saya punya dan jaga dengan baik, dan tetap jaga hati kita untuk menghadapi masa-masa kritis yang sedang dilewati bangsa ini.. mari kita berdoa agar bangsa ini tidak kembali mengalami resesi, karena prime mortage yang terjadi di US.. Oya, semoga di bangsa ini juga lahir generasi muda yang peduli dengan bangsanya, dengan kreatif memimpin dan mengembangkan bangsa ini.. AMiiiinn..

G ada buat blog baru… namanya ayosehat, kunjungi… belum ada apa-apa sih, tapi tolong kasih masukan ya…

May 2, 2008
Kata-kata ini mulai agak sering di dengar di media sewaktu cawagub Jawa Barat.. (alias calon wakil gubernur) Agum Gumelar menanggapi kekalahannya di pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.
Menurut beliau dalam sebuah dialog di media televisi, ada "Black Campaign" mengenai dia dan pasangan dalam pemilihannya pra pemilu.. dimana dirinya yang juga di dukung oleh PDS (partai kristen), di ‘beritakan’ di tempat-tempat ibadah bahwa mereka akan meng-kristenisasi Jawa Barat… Dan jika kita telusuri di mesin pencari, maka kita akan melihat sekian banyak kasus ‘Black Campaign’ selama pilkada di banyak daerah di Indonesia.
 
Axis LogoItulah contoh aplikatif dari "Black Campaign", cara curang untuk memenangkan kompetisi.. sehingga pihak yang dirugikan pun tak berdaya mau nuntut kemana, karena gak jelas sumber dan siapa yang bertanggungjawab.
Begitu juga dengan kartu AXIS, GSM baru yang di ‘telurkan’ oleh Group Lippo ini.. belum seumur jagung, sudah di hajar dengan "Black Campaign" yang dihubungkan dengan agama.. karena hal-hal yang berhubungan dengan agama/ras lebih mudah dan cepat mendapat awarenes..
 
Anyway, saya mengenal salah satu ‘orang dalem’ di Axis.. beliau anak Tuhan yang saya pun kagum dengan iman yang beliau miliki ketika menghadapi ujian dalam hidupnya.. yaitu ketika istrinya sakit (sekarang sudah meninggal), beliau tetap teguh.. bahkan diwaktu pertama kali betemu, beliau meninggalkan istrinya di rumah sakit sesaat.. untuk melayani retret di tempat kami. Saya pikir sudah saatnya kita menanggapi "campaign" seperti ini dengan "open minded". Dengan tidak menjadi bagian ‘perpanjangan tangan’ orang2 yang tidak bertanggung jawab, namun meraih keuntungan atas hal tersebut.
 
Untuk lebih jelas tentang "Black Campaign", ada seorang bloger yang menuliskan tentang hal tersebut lebih baik dari saya.. silahkan kunjungi linknya dengan judul ‘Kenali Black Campagn di Internet‘, semoga berguna.