Saya masih ingat hari itu.. hari penuh harap bahwa semuanya baik-baik saja, tidak terlalu berpikir tinggi, yang ada hanya rasa cinta bagi orang yang paling saya sayangi dalam hidup ini. Yang membuat saya mengehentikan semua perhatian saya dan memberikan sebagian besarnya untuk dirinya, berharap untuk bias melihat senyumnya, tawanya, semangat hidupnya, cerita-cerita masa kecilnya yang membuat saya kagum akan ketegarannya. She is the only one I have in this world, my mom…
Seperti truck menghajar saya, namun harus terlihat tidak terluka saat bertemu dengannya, disaat dokter memanggil saya untuk bertemu, saat itu saya dan kakak saya masuk kedalam ruangan dokter dengan perasaan yakin bahwa semua akan baik-baik saja. “…mamah kamu punya waktu paling kuat 6 bulan..-” kata dokter menurut pengalaman pasien-pasien terdahulunya. Lanjutnya ”..1 tahun jika kalian men-treat mamah sedemikian rupa (identik dengan biaya, yang kami tidak miliki), atau mujizat.”
Banyak pihak keluarga yang tidak terima, ada yang mengusulkan untuk pergi ke dokter lain, ada yang mengusulkan untuk dilakukan test ulang, saya pribadi pergi dan googling (cari informasi lewat google) mengenai hasil diagnosa dokter, bahwa mamah saya menderita NSCLC adeno.ca. (Non Small Cell Lung Cancer, adeno carcinoma), termasuk dalam kategori ganas, sangat jarang sekali orang yang mampu melewati 6 bulan, diseluruh dunia hanya kurang dari 10% pasien yang berhasil melewati masa 6 bulan, dan lebih sedikit lagi yang bisa mencapai 1 tahun.
Penasaran dan tidak percaya hati ini melihat kenyataan di depan mata, bahwa mamah saya menderita cancer, ”how could be..?! my mom is a good mom and nice pleasant woman, she worked so hard.. from she was young until we’re adult.. she is my only one who know me a lot.. God what’s going on within?? “ I said. Sebuah pertanyaan yang sampai hari ini saya hanya bisa menerka-nerka jawabannya, bahkan sempat menyalahkan diri sendiri.
6 bulan yang hampir setiap hari, saya disisinya… dengan hati yang mati rasa, karena tak tahu harus berbuat apa, hari-hari yang membuat saya banyak mengeluarkan janji, serta bernegosiasi dengan sang khalik hidup ini. Berharap ada yang mau Dia tukar dengan kesehatan mamah. Berpikir bahwa hidup ini tidak adil bagi dirinya, yang telah hidup sulit semasa mudanya, kerja keras membesarkan kami anak-anaknya, tidak mendapatkan perlakuan yang sempurna dalam keluarga.
6 bulan yang setiap kali mamah bertanya “de.. sebetulnya mamahh sakit apa?” menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan penuh usaha keras menutupi kesedihan hati, menghindari pertanyaan tersebut, apa lagi menjawabnya (de, sebutan sayang mamah untuk saya), kami sepakat untuk bisa hadir dan tetap memotivasi mamah untuk tetap bersemangat.
6 bulan yang sangat penuh kebingungan tentunya dalam hati dan pikiran mamah, nafsu makan yang sangat sulit untuk di dongkrak, membuat asupan untuk tubuhnya yang membutuhkan sangat banyak demi bertahan dan memberi makan sel-sel kanker yang sangat rakus… menggerogoti tubuh mamah, melihat mamah menyadari bahwa dalam hitungan beberapa hari beliau kehilangan kemampuannya untuk bertahan, beberapa hari yang lalu masih bisa menggendong cucunya, hari ini sudah tidak bisa lagi.. nafas menjadi barang yang sangat berharga sekali, sedikit sekali bisa bernafas dengan cairan yang menekan paru-paru kanannya hingga kempis dan tidak berfungsi lagi, juga jantung yang extra bekerja, hingga membengkak kesebelah kiri.
Tidak dapat lagi merasakan apa yang dimakannya, tidak bisa lagi berjalan terlalu jauh, apa lagi melakukan pekerjaan rumah yang sering dilakukannya, tidak bisa lagi berpikir terlalu berat seperti yang sering dilakukan beliau ketika adik saya yang kecil pulang sekolah, beliau sering men-cek tugas-tugas sekolah dan agenda adik.
6 bulan terlama bagi ibu, berada di rumah sakit, berulang kali keluar masuk rumah sakit, suplement dan obat-obatan yang masuk, infus yang menempel di tangannya, yang sangat diharamkan dalam hidupnya selama ini, harus dihadapi. Saya masih ingat waktu ibu dibulan pertama, di rumah sakit.. ”de.. mamah gak mau kayak gini, mamah gak apa-apa kok, mamah gak apa-apa kan? Mamah cuma cape aja, bentar lagi juga sembuh..”
Saya berusaha menenangkan mamah, sekaligus harus menenangkan hati ini yang sangat sedih karena harus berpura-pura semua akan baik-baik saja.
6 bulan… ya, hanya 6 bulan…
Sekarang beliau sudah tidak ada lagi (June 18, 2007), seorang ibu yang selalu saya harapkan kehadirannya hingga pagi ini. Seorang sahabat, tempat berbagi disaat saya menemukan pertanyaan dalam hidup ini, bukan karena beliau akan selalu menjawab saya, tetapi karena saya tahu, beliau adalah pendoa syafaat saya yang paling setia.
Beliau sering bercerita mengenai doa-doanya, harapan-harapan beliau kepada saya, maupun anak-anak yang lain. Sungguh, harapan yang lahir dari seorang wanita sederhana yang sangat mencintai anaknya. Itu yang membuat saya memutuskan untuk menunggunya dan berharap Tuhan berubah pikiran selama 6 bulan tersebut dan akhirnya saya harus menerima kenyataan yang lain.
I can’t hold you mom, sekalipun sangat ingin.. namun mungkin itu yang terbaik untuknya dan mungkin itu juga pilihan beliau, untuk pulang kepada sang khalik. Thank you mom.. you are the precious gift that represent Him in my life.. miss u a lot.